Three Wise Monkey, istilah ini mungkin tidak asing lagi di telinga Anda. Meski belum begitu paham apa arti dari kalimat ini, mungkin Anda pernah sesekali atau dua – tiga kali mendengar kalimat ini dari beberapa orang atau di sembarang tempat. Lantas, apakah arti dari Three Wise Monkeys ini? Adakah makna istimewa di baliknya? Tentu saja ada, dan ini yang akan menjadi postingan #inspiratif kita kali ini.

Meskipun banyak dari kita yang belum tahu benar apa makna dibalik Three Wise Monkeys, setidaknya kita sudah sangat familiar dengan emoticon- emoticon Three Wise Monkeys berupa monyet yang menutup telinga, menutup mata dan menutup mulut. Meskipun terlihat menampilkan kesederhanaan, ternyata ada arti mendalam dibalik emoticon monyet tersebut.

Three Wise Monkeys adalah sebuah filosofi peribahasa kuno yang berasal dari Jepang. Di negeri sakura tersebut, monyet- monyet tersebut dikenal dengan sebutan ‘Sanzaru’ atau ‘Sanbiki No Saru’. Bukan sebatas itu saja, ternyata monyet- monyet tersebut juga memiliki nama yang menjadi cikal bakal Three Wise Monkeys ini lho, yaitu
*) Mizaru – si monyet yang menutup mata yang artinya ‘see no evil’ atau tidak melihat kejahatan
*) Kikazaru- si monyet yang menutup telinga, berarti ‘hear no evil’ atau tidak mendengar kejahatan/ hal yang buruk
*) Iwazaru – si monyet yang menutup mulutnya, yang berarti ‘say no evil’ atau tidak berkata hal- hal yang jahat/ buruk

Sebetulnya sih masih ada monyet lainnya yang bernama Shizaru, yaitu monyet yang menyilangkan tangannya. Namun dalam filosofi ini, tiga monyet pertama lah yang paling populer.

Artikel Menarik Lainnya :   6 Brand Hijab Terpopuler di Indonesia untuk Inspirasi Bisnis Anda

Menurut sejarah, peribahasa kuno ini pertama kali ditemukan dalam patahan di pintu kuil Tosho-go di Nikko, Jepang, pada abad ke 17. Pahatan ini dibuat oleh Hidari Jingoro dan dipercaya diambil dari ajaran China Kuno yang menganjurkan manusia untuk tidak melihat, mendengar, dan berbicara yang bertentangan dengan kebaikan dan keluhuran budi.

Lantas, kenapa sih hewan yang dijadikan lambing peribahasa ini monyet? Kenapa bukan kucing, gajah, harimau atau hewan lainnya. Konon, alasan Jingoro menggunakan monyet adalah karena dalam bahasa Jepang, zaru yang artinya larangan, memiliki kesamaan pengucapan dengan kata ‘saru’ yang berarti monyet.

Jika kita dalami secara mendalam, filosofi Jepang ini sejatinya memiliki arti yang sangat bijak dan mendalam. Mulai dari Mizaru ( see no evil ) yang menganjurkan kita untuk tidak melihat hal yang tidak baik. Sebagaimana generasi saat ini yang telah terkontaminasi dengan tayangan yang tidak mendidik di televisi, secara perlahan tapi pasti, efeknya mulai terlihat, yaitu anak muda banyak yang semakin kasar pada sesama, tidak menghormati orang lain, minim toleransi dan cenderung brutal. Tidak semua  tayangan televisi di Indonesia buruk memang, tapi bukankah sebagian besar seperti itu? Khususnya anak- anak, mereka akan mudah sekali untuk mencontoh apa yang dilihatnya, daripada apa yang orang tua mereka ajarkan secara verbal.

Artikel Menarik Lainnya :   22 Nasehat Bijak dari Entrepreneur Paling Sukses di Cina

Kemudian dengan Kikazaru ( hear no evil ), yaitu anjuran untuk mendengar sesuatu yang baik. Kata- kata acap kali dapat tertanam di otak kita dan menjadi sugesti yang mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Maka dari itu, tentu lebih baik kita mendengarkan kata- kata bijak dan music lembut yang menenangkan daripada mendengarkan doktrin kotor dan menyesatkan.

 

Iwazaru ( speak No Evil ), mengajarkan kita untuk mengucapkan kata- kata yang baik dan menghindari berkata buruk. Perkataan bisa dibilang merupakan sebuah output atau hasil dari apa yang kita lihat dan kita dengarkan. Dengan terbiasa melihat dan mendengar yang baik- baik, maka kita akan terpengaruh untuk berbicara yang baik- baik terhadap sesama. Kita tidak akan mudah menyepelekan orang, mencemooh, menghakimi apalagi sampai membully orang lain.

Artikel Menarik Lainnya :   Strategi Buka Usaha di Tahun 2018 : Hindari lah Beberapa Kesalahan Fatal Ini
[Tweet “Melihat & mndengar yg baik akan mmbuat kita mnjadi pribad yg brtutur kata baik”]

Kalau dipikir- pikir, tentu filosofi Three Wise Monkeys ini sangat sederhana, tapi memiliki makna yang luar biasa. Bayangkan saja bila kita terbiasa menerapkan tiga perilaku tersebut dan menularkannya pada teman- teman dan keluarga. Maka Saya yakin bahwa generasi kita adalah generasi yang bukan hanya cerdas dan hafal ayat- ayat suci, tapi juga memiliki pitutur dan perilaku yang baik terhadap sesama. Akan lebih sedikit permusuhan dan kebencian karena kita telah menyaring input yang baik untuk membagikan output yang baik pula untuk dunia.

Sekian postingan kali ini, semoga menginspirasi J. Silahkan di share ya ^_^